RSS

Tanah yang Tak Pernah Subur

11 Apr

Kumeninggalkan kota kelahiranku
kumenemukan seutas ujung akar
dengan tatapan dinginnya, mata kami bertemu
memutar fatamorgana lama dalam pikiranku
distorsi waktu mengunci hati yang hendak berkata

Keinginanku yang melapisi segala keinginan,
tuk membuat seluruh bunga tumbuh diatas lapang ini
dan mencegahnya untuk lenyap satu per satu

Angin terus berbisik, membujuk daun tuk berguguran
Bunga tak dapat mekar, apakah tanah ini tak cocok?

Badai terus datang meniup segalanya
rerumputan dan lumut kan mengisi kekosongan
hingga musim salju melepas butiran es putih
Mungkin ini akhir dari segalanya

Disaat ku tak memiliki siapapun, aku mulai menyerah
Waktu terus berjalan menanti sambutan selamat datang
Memberi kenyamanan alami yang mulai terbentuk
Awan terus menangis, mungkin pertanda buruk

Hari itu pun datang tak terduga
duri-duri bernafsu tersebar di seluruh penjuru
mencabik-cabik dedaunan di tanah lapang ini

Meski tersesat dalam dirinya sendiri
seorang jenderal tanpa prajurit tak mengeluarkan sepatah kata
terus merunduk dan menyiramnya dengan air merah

Tanah yang takkan pernah menopang seluruh kehidupan
Mungkinkah aku memang tak layak mendapatkannya
Apakah lebih baik hari esok memang tiada?

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 11, 2016 in My life

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: